Potret Pendidikan di daerah 3 T (Terdepan, Tertinggal, Terbelakang)

Published by Fira Kumalasari on

Pendidikan adalah jalan terbaik meningkatkan taraf kehidupan sebuah generasi. Tak terkecuali di Indonesia. Namun apa yang dijumpai di Kangean kepulauan di ujung timur wilayah Madura, dapat menjadi cerminan kondisi pendidikan di banyak daerah terpencil Indonesia lainnya. Melalui Ekspedisi Nusantara Jaya yang merupakan program dari kemenko Maritim, saya berkesempatan melihat langsung kondisi pendidikan yang berada didaerah 3T (terdepan, terpencil,terluar) secara langsung. Ada beberapa sekolah yang kami kunjungi, salah satunya SMA Negeri 1 Arjasa.

SMA Negeri 1 Arjasa merupakan sekolah ter-“favorite” di kecamataan Arjasa, kabupaten Sumenep, kepulauan Kangean. Secara fisik, kondisi bangunan sekolah ini termasuk sudah tergolong bagus dibandingkan dengan sekolah-sekolah lainnya yang ada di kecamatan Arjasa. Namun, apakah kondisi bangunan yang bagus selalu diiringi kualitas pendidikan yang baik?. Bagaimana dengan sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar, apakah sudah memadai?.

Menurut beberapa siswa baik dari jurusan IPA maupun IPS sekolah tersebut mengatakan bahwa fasilitas yang disediakan sekolah masih tergolong minim. Ketersediaan ruang laboratorium sudah ada akan tetapi terkendala alat dan bahan sehingga ketika akan melakukan praktikum terhambat. Belum adanya museum sejarah di daerah ini, sehingga siswa masih abstrak dalam memvisualisasikan benda seperti bagaimana bentuk arca, candi dsb. Sekolah ini juga sudah dilengkapi ruang computer dan LCD di beberapa kelas dan memiliki mesin diesel sendiri. Sebelumnya saya jelaskan, bahwa di kecamatan Arjasa, listrik hanya ada pada pukul 17.00-05.00 WIB. Daerah ini juga sudah dijangkau layanan internet, namun hanya ada telkomsel dan XL dan harga biaya akses internet masih tergolong mahal.

Berdasarkan informasi yang saya dapat, setiap tahun hanya ada sekitar 5-7 siswa yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Mayoritas mereka lebih memilih kerja, menikah, ataupun menimba ilmu di pesantren. Beberapa faktor yang menjadi latar belakang mengapa hal itu terjadi yaitu karena kurangnya sosialisasi dan minim informasi Perguruan Tinggi, kekhawatian baik orang tua maupun siswa akan pergaulan bebas jika harus kuliah di luar kota, dan sebagian besar berasal dari keluarga yang kurang mampu dalam hal ekonomi.

Perlu diketahui bahwa di Kangean sekitar 75% penduduknya merupakan TKI dan sisanya bermata pencaharian sebagai petani, buruh, pemecah batu, pegawai dsb.
Mungkin ini sedikit cerita saya mengenai gambaran pendidikan di kepulauan Kangean. Semoga dengan sedikit tulisan saya ini, dari berbagai pihak mulai peduli dengan pendidikan di daerah 3 T khususnya kepualauan Kangean.

Categories: Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Berita

Daycare atau Bersama Orang Tua? Mana yang lebih baik?

Kasih sayang kepada buah hati tentunya merupakan salah satu hal yang pasti dimiliki oleh setiap orangtua. Mereka tentunya menginginkan hal yang terbaik yang akan selalu diberikan kepada anak-anaknya. Namun sejatinya kini banyak orangtua yang sibuk Read more…

Berita

Virtual Reality Game dan BTS (Bangtan Sonyeondan)

Pengenalan tempat – tempat bersejarah, budaya, binatang, kuliner dan tempat wisata di indonesia kepada anak dapat merangsang otak untuk berimajinasi dan melatih kreatifitas, dengan metode pembelajaran yang unik dan menarik akan memberikan motifasi kepada anak Read more…

Berita

Sejarah Perkembangan Augmented Reality

Augmented Reality adalah sebuah teknologi yang ‘menggabungkan’ dimensi dunia nyata dan dimensi dunia maya, yang ditampilkan secara realtime (waktu nyata) dengan menggunakan kamera sebagai media yang menjembatani antara kedua dimensi. Teknologi Augmented Reality saat ini mulai Read more…